Dituding Bantu Rusia Serang Ukraina, CEO Yandex Mundur

Dituding Bantu Rusia Serang Ukraina, CEO Yandex Mundur

Jakarta – CEO Yandex Arkady Volozh mundur dari jabatannya tidak lama setelah Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepadanya. Uni Eropa menduga Volozh membantu Rusia saat menginvasi Ukraian.

Perusahaan raksasa teknologi yang berdiri sejak 1997 ini mengumumkan pengunduran Volozh, sang pendirinya itu, pada Jumat (03/06/2022) dilansir https://www.ispcan2018.org/ melalui Reuters.

Dituding Bantu Rusia Serang Ukraina, CEO Yandex Mundur

Sementara itu, Uni Eropa memberikan sanksi kepada Volozh atas tuduhan memberikan dukungan ‘material atau finansial’ kepada Rusia, yang mengirimkan puluhan ribu pasukan tentara ke Ukraina pada Februari silam.

Meski begitu, Volozh mengatakan bahwa tuduhan Komisi Eropa tersebut sebagai salah alamat. Meskipun ada sanksi, dia menyerahkan pemungutan suara kepada direksi perusahaan. Sementara itu, Yandex sendiri tidak terkena sanksi dari Uni Eropa.

Perusahaan tersebut mengatakan bahwa mereka yakin pengunduran diri Volozh tidak berpengaruh terhadap operasi, keadaan finansial, dan hubungan mereka dengan mitra.

“Direksi terus berfungsi secara normal. Yandex memiliki tim manajemen yang kuat, yang mampu membawa perusahaan ii ke tingkat berikutnya dengan dukungan yang kuat dari dewan,” kata Yandex.

Sebagai tambahan informasi, Rusia menyerang Ukraina sejak 24 Februari 2022. Mereka menyebut agresi tersebut sebagai ‘operasi militer khusus’ untuk ‘denazifikasi’ negara tetangga mereka itu.