Aremania Demo, Segel Kantor Arema FC hingga Tuntut Mundur dari Liga 1

Aremania Demo, Segel Kantor Arema FC hingga Tuntut Mundur dari Liga 1

Malang — Puluhan Aremania yang tergabung dalam ‘Gerakan Arek Malang Bersikap’ mendatangi kantor Arema FC di Jalan Mayjend Pandjaitan, Malang, Minggu https://www.ispcan2018.org/ (15/1).

Mereka datang dengan membawa spanduk panjang bergambar wajah pemilik saham terbesar PT AABBI sekaligus Wakil Ketua PSSI Iwan Budianto. Terdapat tulisan sindiran di spanduk itu.

“You care about 135+ people boss? Yes I’m care about money (Kamu peduli tentang 135+ orang [korban Tragedi Kanjuruhan] bos? Ya, saya peduli tentang uang,” tulis spanduk yang mereka bawa.

Tak hanya itu, sejumlah poster lain juga dibentangkan. Poster-poster itu bertuliskan, ‘Tanggung jawab moral federasi atas Tragedi Kanjuruhan adalah Revolusi’, ‘Malang Kucecwara’ hingga ‘Aremania berjuang sendiri klubnya tidak peduli. Nirempati PSSI sibuk benturkan kami’.

Salah satu massa aksi, Yoyok, mengatakan aksi ini mereka lakukan karena manajemen Arema FC abai dengan perjuangan Aremania, penyintas, dan keluarga korban yang mencari keadilan.

Arema FC disebut sebagai sosok pertama yang harus bertanggung jawab karena mengabaikan aspek keselamatan dan kemanan suporter.

Aremania Demo, Segel Kantor Arema FC hingga Tuntut Mundur dari Liga 1

“Diabaikannya aspek keselamatan dan keamanan suporter oleh pihak panitia pelaksanaan pertandingan dari Ketua Panpel, Security Officer, Media Officer, dan Marketing yang direkrut dan didaftarkan asal-asalan oleh PT AABBI (Arema FC) ini diduga kuat juga menjadi penyebab tragedi nahas ini,” kata Yoyok.

Apalagi, merujuk pada temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGIPF), penjualan tiket pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya 1 Oktober 2022 melenihi batas kapasitas Stadion Kanjuruhan.

“Terlihat dengan gamblang, mereka [PT AABBI/Arema FC] berorientasi laba yang menjadi prioritas utama, bukan keselamatan,” ujarnya.

Aksi protes juga diwarnai penyegelan kantor Arema FC serta penaburan bunga. Meski aksi tersebut sempat dihalang-halangi penjaga kantor. Massa tetap nekat menempelkan stiker segel.

“‘Arek Malang Boikot Klub Tanpa Empati’, ‘Suporter Cari Keadilan, Kalian Sibuk Cari Cuan. Silahkan Pergi’ hingga ‘Tiket Habis Suporter Dibiarkan Berjuang Sendiri’,” bunyi sejumlah stiker yang mereka tempelkan.

Menurut mereka, Arema FC hanya melakukan pemberian santunan kepada korban meninggal hingga luka-luka. Tetapi tidak melakukan sikap tegas membela dan memperjuangkan keadilan bagi korban.

“Klub seolah tanpa dosa dengan sepenuh hati melanjutkan kompetisi kembali. Mereka menanggalkan empati seolah tragedi ini tak pernah terjadi,” ucapnya.

“Padahal tangis, luka, darah dan air mata korban serta keluarga korban sangat jauh dari kata sembuh. Para korban dalam berbagai aspek masih perlu banyak pendampingan seperti advokasi hukum yang di mana proses keadilan masih jauh dari harapan. Tapi hal ini tak tersentuh pihak Arema FC yang harusnya ikut tanggungjawab,” tambahnya.

Setidaknya ada tiga tuntutan yang Arek Malang bawa. Pertama, gerakan Arek Malang menuntut Arema FC (PT AABBI) selaku klub untuk mundur dari kompetisi Liga 1 2022/2023.

Kedua, menolak segala aktifitas PT AABBI (Arema FC) sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam Tragedi Kanjuruhan di Malang Raya.

Tiga, massa aksi mendesak PT AABBI sebagai subjek hukum (korporasi) untuk ikut berpartisipasi aktif dalam upaya usut tuntas Tragedi Kanjuruhan serta kooperatif dalam proses hukum yang berjalan.

“Kami minta sikap ini diperhatikan dan dapat dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab,” ucap Yoyok.

Mereka memberi waktu selama 14 hari. Jika tidak, maka Gerakan Arek Malang Bersikap mengancam akan ada gelombang aksi unjuk rasa yang lebih besar.

“Ini adalah suara tanda bahaya. Apabila sampai 14 hari tidak ada itikad baik dari PT AABBI untuk merespons tuntutan kami, maka bakal ada aksi lanjutan lebih besar,” pungkasnya.